Sudah Parafrase tapi Similarity Masih Tinggi? Cek 5 Hal Ini

Sudah Parafrase tapi Similarity Masih Tinggi? Cek 5 Hal Ini

Sudah parafrase tetapi similarity Turnitin masih tinggi? Kondisi seperti ini cukup sering dialami mahasiswa ketika mengerjakan skripsi, tesis, jurnal ilmiah, maupun tugas akademik lainnya. Padahal, kalimat yang dianggap memiliki kemiripan sudah diubah menggunakan kata-kata berbeda. Lalu, mengapa similarity masih tinggi meskipun sudah parafrase?

Jawabannya, proses parafrase tidak hanya sekadar mengganti beberapa kata dengan sinonim. Struktur kalimat, susunan gagasan, istilah akademik, kutipan, daftar pustaka, hingga sumber yang digunakan juga dapat memengaruhi hasil Similarity Report.

Turnitin sendiri menjelaskan bahwa Similarity Report menunjukkan persentase teks yang memiliki kemiripan dengan sumber yang terdapat dalam database Turnitin. Sumber tersebut dapat berupa halaman internet, publikasi, jurnal, maupun karya mahasiswa yang tersimpan dalam repository tertentu. Similarity yang muncul juga tidak otomatis berarti plagiarisme karena kutipan dan referensi yang ditulis dengan benar tetap dapat terdeteksi sebagai teks yang sama.

Karena itu, jika sudah parafrase tapi similarity masih tinggi, jangan langsung melakukan parafrase ulang seluruh dokumen. Sebaiknya cari tahu terlebih dahulu bagian mana yang menyebabkan similarity tinggi.

Berikut 5 hal yang perlu dicek ketika sudah parafrase tetapi similarity Turnitin masih tinggi.

1. Parafrase Hanya Mengganti Kata, Bukan Struktur Kalimat

Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah melakukan parafrase dengan cara mengganti beberapa kata menggunakan sinonim.

Contohnya, kalimat asli memiliki struktur:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media sosial terhadap motivasi belajar mahasiswa.

Kemudian hanya diubah menjadi:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penggunaan media sosial terhadap motivasi belajar mahasiswa.

Walaupun terdapat perubahan kata “pengaruh” menjadi “dampak”, struktur dan sebagian besar susunan kalimat masih sama. Akibatnya, teks tetap berpotensi memiliki kemiripan tinggi dengan sumber.

Parafrase akademik yang baik seharusnya tidak hanya berfokus pada pergantian kosakata. Penulis perlu memahami gagasan utama dari sumber terlebih dahulu, kemudian menyampaikannya kembali menggunakan struktur kalimat dan gaya penulisan sendiri.

Misalnya:

Penggunaan media sosial menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat perubahan motivasi belajar di kalangan mahasiswa.

Contoh tersebut memiliki struktur yang berbeda, tetapi tetap mempertahankan inti pembahasan.

Namun, perlu diperhatikan bahwa parafrase tidak boleh menghilangkan makna asli. Tujuan parafrase bukan membuat tulisan terlihat berbeda semata, tetapi menyampaikan informasi dari sumber dengan bahasa sendiri secara tepat dan tetap mencantumkan sitasi.

Turnitin sendiri menyarankan penulis untuk menyeimbangkan informasi dari sumber dengan tulisan sendiri serta menentukan kapan sebuah informasi sebaiknya diparafrase, diringkas, atau dikutip langsung.

2. Terlalu Banyak Menggunakan Kalimat dari Satu Sumber

Hal kedua yang perlu diperiksa adalah jumlah teks yang berasal dari sumber tertentu.

Misalnya, sebuah bab skripsi terdiri dari 1.000 kata, tetapi 500–600 kata di antaranya masih sangat dekat dengan satu atau beberapa sumber. Meskipun sudah dilakukan parafrase, pola pembahasannya mungkin masih mengikuti sumber asli secara berlebihan.

Kondisi ini dapat membuat similarity tetap tinggi.

Dalam penulisan akademik, sumber memang diperlukan sebagai dasar argumentasi. Namun, tulisan sebaiknya tidak hanya menjadi kumpulan informasi dari berbagai sumber. Mahasiswa juga perlu memberikan penjelasan, interpretasi, analisis, dan hubungan antargagasan berdasarkan pembahasan yang sedang dibuat.

Coba periksa Similarity Report dan lihat sumber mana yang memberikan kontribusi terbesar terhadap similarity.

Jika terdapat satu sumber yang memiliki persentase cukup besar, buka bagian yang terdeteksi dan evaluasi kembali:

  • Apakah kalimat masih terlalu mirip?
  • Apakah struktur kalimat masih mengikuti sumber?
  • Apakah paragraf terlalu bergantung pada satu referensi?
  • Apakah informasi tersebut sebenarnya lebih tepat dijadikan kutipan langsung?
  • Apakah sitasinya sudah dicantumkan dengan benar?

Dengan cara ini, proses menurunkan similarity menjadi lebih terarah daripada melakukan parafrase secara acak.

3. Kutipan dan Daftar Pustaka Ikut Terhitung

Sudah parafrase tetapi similarity masih tinggi juga dapat disebabkan oleh kutipan dan daftar pustaka.

Ini merupakan salah satu alasan mengapa mahasiswa sebaiknya tidak langsung menganggap semua teks berwarna atau semua persentase similarity sebagai plagiarisme.

Turnitin menjelaskan bahwa kutipan yang digunakan dengan benar tetap dapat muncul sebagai match dalam Similarity Report. Begitu pula dengan bibliografi atau daftar pustaka yang dapat memengaruhi persentase apabila pengaturan pengecualian tertentu tidak digunakan.

Pada beberapa pengaturan Similarity Report, kutipan dan bibliografi dapat dikecualikan dari perhitungan. Turnitin menyediakan fitur exclusions untuk membantu memfokuskan laporan pada bagian yang lebih relevan, termasuk pengecualian bibliography, quoted text, cited text, dan small matches.

Namun, perlu diingat bahwa pengaturan tersebut dapat bergantung pada konfigurasi institusi atau assignment. Artinya, mahasiswa tidak boleh hanya berpatokan pada hasil setelah melakukan filter di laporan pribadi.

Jika kampus menetapkan aturan tertentu mengenai similarity, gunakan ketentuan kampus sebagai acuan utama.

Jadi, sebelum melakukan parafrase ulang, periksa terlebih dahulu apakah similarity tinggi berasal dari:

  1. Isi utama skripsi.
  2. Kutipan langsung.
  3. Daftar pustaka.
  4. Judul atau template.
  5. Istilah tertentu yang memang harus dipertahankan.

Dengan begitu, waktu untuk memperbaiki dokumen dapat digunakan secara lebih efektif.

4. Istilah Akademik dan Frasa Umum Sulit Diubah

Tidak semua kata dalam tulisan akademik dapat diganti sesuka hati.

Beberapa istilah memiliki makna khusus dan memang perlu dipertahankan. Contohnya istilah dalam bidang hukum, kedokteran, teknologi, ekonomi, pendidikan, atau metodologi penelitian.

Misalnya:

  • metode penelitian kuantitatif
  • regresi linear berganda
  • variabel independen
  • variabel dependen
  • analisis data
  • uji validitas
  • uji reliabilitas
  • populasi dan sampel
  • kerangka berpikir

Jika semua istilah tersebut dipaksa diganti hanya untuk mengejar similarity rendah, tulisan justru dapat menjadi tidak natural atau bahkan mengubah makna akademiknya.

Hal yang sama berlaku untuk frasa yang memang umum digunakan dalam penulisan ilmiah.

Karena itu, ketika melakukan parafrase skripsi untuk menurunkan similarity, fokus utama sebaiknya bukan sekadar mengganti sebanyak mungkin kata. Fokusnya adalah membuat penyampaian gagasan menjadi lebih orisinal tanpa mengubah konsep, istilah teknis, maupun maksud sumber.

Dengan kata lain, similarity rendah bukan satu-satunya tujuan dalam melakukan parafrase. Kualitas akademik dan ketepatan makna tetap harus dipertahankan.

5. Struktur Paragraf Masih Mengikuti Sumber Asli

Ini adalah bagian yang sering luput ketika seseorang merasa sudah melakukan parafrase.

Terkadang setiap kata sudah diganti, tetapi urutan pembahasannya masih sama persis dengan sumber.

Contohnya, sumber asli menjelaskan:

  1. Definisi masalah.
  2. Penyebab masalah.
  3. Dampak masalah.
  4. Solusi masalah.

Kemudian tulisan hasil parafrase juga mengikuti urutan:

  1. Definisi masalah.
  2. Penyebab masalah.
  3. Dampak masalah.
  4. Solusi masalah.

Meskipun kosakatanya berbeda, pola penyampaian masih sangat dekat.

Untuk memperbaikinya, pahami terlebih dahulu inti informasi yang ingin disampaikan. Setelah itu, susun kembali gagasan berdasarkan kebutuhan tulisan sendiri.

Misalnya, pembahasan dapat dimulai dari permasalahan terlebih dahulu, kemudian masuk ke data pendukung, dilanjutkan dengan analisis, dan ditutup dengan kesimpulan.

Cara ini membantu membuat tulisan lebih natural sekaligus memberikan ruang bagi penulis untuk memasukkan pemikiran dan analisisnya sendiri.

Turnitin juga mengelompokkan match berdasarkan karakteristik seperti teks yang tidak dikutip, kutipan yang kehilangan tanda kutip, kutipan yang kehilangan sitasi, serta teks yang sudah dikutip dan diberi tanda kutip. Melihat detail match seperti ini jauh lebih informatif daripada hanya melihat angka similarity secara keseluruhan.

Bagaimana Cara Menurunkan Similarity Setelah Parafrase?

Jika sudah parafrase tapi similarity masih tinggi, langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi secara sistematis.

Pertama, buka Similarity Report dan lihat sumber dengan persentase atau jumlah kata yang paling besar.

Kedua, periksa teks yang disorot. Jangan langsung mengubah semua bagian yang terdeteksi.

Ketiga, kelompokkan masalahnya. Apakah match berasal dari paragraf utama, kutipan, daftar pustaka, template, atau istilah tertentu?

Keempat, lakukan parafrase ulang hanya pada bagian yang memang perlu diperbaiki.

Kelima, pastikan setiap gagasan yang berasal dari sumber tetap mendapatkan sitasi yang sesuai.

Keenam, lakukan pengecekan ulang setelah revisi.

Proses tersebut jauh lebih efektif daripada sekadar menggunakan metode mengganti kata dengan sinonim secara otomatis.

Apakah Similarity Harus 0%?

Tidak selalu.

Banyak mahasiswa beranggapan bahwa dokumen yang ideal adalah dokumen dengan similarity 0%. Padahal, angka similarity tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan apakah suatu karya merupakan plagiarisme.

Turnitin menjelaskan bahwa similarity score hanya menunjukkan seberapa banyak teks dalam dokumen yang memiliki kemiripan dengan sumber dalam database. Penentuan plagiarisme membutuhkan pemeriksaan konteks dan sumber yang cocok.

Bahkan, dokumen akademik yang menggunakan kutipan dan referensi secara benar tetap dapat menghasilkan similarity tertentu. Turnitin juga menjelaskan bahwa skor 0% dapat menjadi sesuatu yang relatif jarang untuk tugas panjang yang memang membutuhkan kutipan atau penggunaan sumber.

Jadi, jangan mengejar angka 0% dengan mengorbankan kualitas tulisan.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa:

  • tulisan memiliki kontribusi dan analisis sendiri;
  • sumber dikutip dengan benar;
  • kutipan langsung diberi format yang sesuai;
  • parafrase benar-benar menggunakan struktur bahasa sendiri;
  • referensi dicantumkan dengan tepat;
  • tidak ada bagian yang sengaja disalin tanpa atribusi.

Kapan Sebaiknya Melakukan Cek Similarity?

Pengecekan similarity sebaiknya tidak hanya dilakukan beberapa menit sebelum skripsi dikumpulkan.

Idealnya, lakukan pengecekan secara bertahap setelah beberapa bagian utama selesai. Dengan begitu, jika terdapat similarity tinggi, revisi masih dapat dilakukan tanpa harus mengubah keseluruhan dokumen.

Misalnya, mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan setelah menyelesaikan:

  • Bab I atau pendahuluan.
  • Bab II atau kajian pustaka.
  • Bab III atau metodologi.
  • Bab IV atau hasil dan pembahasan.
  • Keseluruhan naskah sebelum finalisasi.

Setiap kampus dapat memiliki aturan berbeda mengenai batas similarity yang dianggap sesuai. Karena itu, jangan hanya mengikuti angka yang beredar di internet. Turnitin sendiri menyarankan mahasiswa memeriksa aturan institusi, instruksi tugas, atau dosen untuk mengetahui ekspektasi similarity yang berlaku.

Hindari Parafrase Asal untuk Mengejar Angka Rendah

Ketika melihat similarity tinggi, mahasiswa terkadang tergoda menggunakan metode parafrase yang terlalu ekstrem.

Misalnya, semua kata diganti, kalimat dibuat sangat berbeda, atau struktur paragraf diubah tanpa memahami konteks. Cara tersebut memang dapat mengubah bentuk teks, tetapi belum tentu menghasilkan tulisan akademik yang baik.

Parafrase seharusnya tetap mempertahankan makna utama dari sumber.

Jika sumber menyampaikan konsep tertentu, hasil parafrase harus tetap merepresentasikan konsep tersebut dengan benar. Jangan sampai similarity turun tetapi informasi yang disampaikan menjadi salah.

Selain itu, jangan menghilangkan sitasi hanya karena kalimat sudah diparafrase. Parafrase tetap membutuhkan atribusi kepada sumber karena ide atau informasi tersebut berasal dari referensi tertentu.

Solusi Jika Sudah Parafrase tapi Similarity Masih Tinggi

Jika setelah melakukan parafrase similarity masih tinggi, jangan panik. Mulailah dengan membaca laporan secara keseluruhan.

Cari sumber dengan match terbesar, kemudian identifikasi bagian yang benar-benar perlu diperbaiki. Setelah itu, lakukan parafrase secara manual dengan memahami gagasan terlebih dahulu.

Jika dokumen sangat panjang dan membutuhkan banyak revisi, proses tersebut tentu dapat memakan waktu.

Untuk mahasiswa yang membutuhkan bantuan dalam parafrase skripsi, jurnal, makalah, atau dokumen akademik, Jokilabs menyediakan layanan yang dapat membantu proses pengolahan teks akademik dengan tetap memperhatikan makna dan konteks tulisan.

Butuh Bantuan Parafrase dan Cek Similarity?

Kalau kamu sudah melakukan parafrase tetapi similarity masih tinggi, jangan asal mengubah kata satu per satu. Identifikasi terlebih dahulu penyebab similarity dan perbaiki bagian yang memang membutuhkan revisi.

Jokilabs dapat menjadi pilihan bagi kamu yang membutuhkan bantuan dalam parafrase akademik, pengecekan similarity, dan revisi tulisan.

Kamu bisa melakukan pemesanan melalui website jokilabs.com atau menghubungi WhatsApp 082241842648 untuk mendapatkan informasi layanan dan proses pengerjaannya.

Dengan proses yang lebih terarah, kamu tidak perlu menghabiskan waktu untuk melakukan parafrase berulang kali tanpa mengetahui bagian mana yang sebenarnya menyebabkan similarity tinggi.

Sudah parafrase tapi similarity masih tinggi? Cek dulu 5 hal di atas sebelum melakukan revisi ulang seluruh dokumen.